Pages

  • Blockquote

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Duis non justo nec auge

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Vicaris Vacanti Vestibulum

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

Tampilkan postingan dengan label pengamatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengamatan. Tampilkan semua postingan

Kotoran Babi Dimanfaatkan Jadi Biogas dan Bisa Menghasilkan Listrik

Selasa, 24 Mei 2011 0 komentar


Kotoran babi memang membuat bau tidak sedap dan sering memicu protes warga. Namun di tangan Suratman, warga Boyolali, Jawa Tengah, kotoran babi dari peternakannya sudah dimanfaatkan sebagai biogas sejak 2007.

Ketika SCTV berkunjung ke peternakan, Senin (23/5), ternyata tak hanya kel
uarga Suratman yang memanfaatkan biogas. Para tetangga di sekitar peternakan babi itu juga dapat menikmati biogas tanpa harus mengeluarkan biaya tinggi.

Menurut Suratman, pemanfaatan limbah babi berawal dari keluhan warga yang terganggu dengan bau kotoran babi yang menyengat. Kemudian, Suratman mendapatkan penyuluhan dari pemerintah setempat agar kotoran babi itu dimanfaatkan sebagai biogas.

Dengan modal sekitar Rp 15 juta dibuatlah penampungan kotoran babi untuk biogas. Setelah jadi, ternyata volume kotoran babi menghasilkan biogas yang melimpah. Sehingga Suratman menawarkan kepada tetangganya untuk ikut menikmati biogas dari peternakaannya.

Dengan adanya biogas dari peternakan babi, kini belasan keluarga tetangga Suratman tidak perlu lagi membeli tabung gas untuk memasak. Para tetangga yang sebelumnya sempat memprotes peternakan babi Suratman, kini justru menjadi diuntungkan

Sebuah waduk kecil tempat menampung kotoran babi serta hewan ternak lain, tak hanya membuat bau lingkungan di sekitarnya. Waduk ini juga bisa mencemari aliran sungai, meracuni air tanah dan lebih parah lagi dapat meningkatkan kadar gas metan dan karbondioksida di udara.
Untuk itu, ilmuwan berlomba-lomba mencari cara alternatif untuk memanfaatkan kotoran hewan. Salah satu yang tengah gencar dilakukan adalah mencoba mengubah kotoran hewan agar menghasikan energi listrik ramah lingkungan. Namun masalahnya, belum ditemukan cara yang paling efektif dalam mengolah kotoran hewan menjadi sumber energi.

Tim ilmuwan yang dipimpin Trakarn Prapaspongsa dari Denmark kemudian menganalisa beragam cara yang digunakan perusahaan-perusahaan di Denmark dalam menangani kotoran babi. Mereka rata-rata memanfaatkan kotoran itu untuk menghasilkan listrik dengan menggunakan sistem seperti pencernaan anaerob atau incinerator (pembakaran).

Seperti dikutip dari New Scientist, Rabu (28/10/2009), dalam sistem pencernaan anaerob, bakteri memecah kotoran atau sampah dengan memanaskannya di dalam sebuah bejana bebas oksigen, kemudian melepaskan gas metan yang di gunakan dalam turbin gas. Sementara itu, incinerator membakar material untuk mendidihkan air dan menggerakkan turbin uap yang akan menghasilkan listrik.

Tim dari Aalborg University ini kemudian menemukan bahwa untuk efisiensi tinggi dalam produksi energi, cara pencernaan anaerob merupakan jawabannya.

Namun jika bermaksud meminimalisir emisi gas rumah kaca, maka kita harus mengambil prioritas. Pilihan terbaik adalah dengan cara memisahkan sampah bermateri padat dengan yang cair. Keringkan material padat, kemudian barulah membakarnya.

baru-baru

Kamis, 05 Maret 2009 0 komentar

HASIL PENGAMATAN PERTUMBUHAN KACANG HIJAU

Minggu, 11 Januari 2009 0 komentar

HASIL PENGAMATAN PERTUMBUHAN KACANG HIJAU

Tujuan: mencari bentuk keanehan dan gerakan yang terjadi pada tumbuhan
Alat:
3 gelas aqua
Lem
Kertas kecil ukuran 1x1cm (dikira-kira juga bisa)
Bahan:
½ kg kacang hajau
Sebungkus kapask erring
Air
Cara kerja:
Siapkanlah 3 gelas aqua
Basahkan kapas dengan air
Taruh kapas basah ke dalam 3 gelas aqua tersebut, 1/5 bagian wadah aqua diisi kapas tersebut
Taruh 6-8 biji ke dalam aqua tersebut
Berilah label A, B, C pada gelas tersebut dengan kertas kecil tadi dan di lem
Gelas A berada di tempat gelap
Gelas B ditaruh di tempat terang
Gelas C ditaruh ditempat dibawah sinar matahari
Catatlah hasilnya selama 1 minggu (karna aku mulainya hari selasa bukan senin, jadi pengamatannya sleama 6 hari)
Table hasil pengamatan:
Hari Panjang tumbuhan (cm)
Gelas A B C
1 1 0,5 0,2
2 3 2 1
3 10 5 5
4 15 10 7
5 20 15 10
6 29,5 24 17,3



Kesimpulan:
1 DAUN
Daun gelas A lebih muda dan tipis dengan berwarna, disebabkan karna daun tersebut tidak melakukan fotosintesis (tapi sedikit berfotosintesis karna kukeluarkan untuk diamati di bawah sinar matahari, dan lamanya mungkin 1 menit) dan ditaruh di tempat gelap
Daun gelas B berwarna hijau biasa dan tidak tipis dan tidak tebal, disebabkan karna daun tersebut mengalami fotosintesis tidak terlalu banyak, ditaruh di tempat gelap
Daun gelas C lebih besar dari gelas lain, berwarna hijau tua dan tebal. Disebabkan karna daun tersebut melakukan fotosintesis dan penguapan terlalu banyak. Dan juga berada di bawah sinar matahari

2 BATANG
Batang gelas A berwarna pucat dan batang tersebut sangat lemah, disebabkan karna air pada batang tersebut sangat lemah, disebabkan karna air pada batnag tersebut sedikit karna daun tidak melakukan fotosintesis. Batang tersebut panjang karna pertumbuhan tidak diberi saran matahari, dan batangnya memanjang gerak batang tersebut teratur karna batangnya melengkung ke mana-mana karna masih mencari sinar mathari di tempat gelap, gerak ini mungkin disebut gerak nasti.
Batang gelas B sedikit tipis dan sedikit tebal. Disebabkan karna pengaruh fotosintesis yang kurang banyak. Air pada batnag tersebut tidak banyak dan tidak sedikit. Panjang tumbuhan tersebut sedikit lebih rendah dengan batang gelas B ini disebabkan karna proses fotosintesis walaupun sedikit dan air pada batang sedikit demi sedikit habisnya, jadi batang tersebut pertumbuhannya sedikit lamban
Batang gelas C berwarna coklat di bagian bawah dan batangnya lebih keras dari batang gelas lain, disebabkan karna batang tersebut airnya sudah mengering karna proses penguapan yang sangat banyak. Pertumbuhan batang tersebut sangat lambat karna, proses penguapan yang terlalu banyak


3 AKAR
Untuk akar mungkin tidak ada tapi yang membedakan hanya pada keras akar tersebut akar gelas A sangat lembek dan tidak keras
Akar gelas A sangat lembek dan tidak keras
Akar gelas B sedikit keras dan sedikit lembek
Akar gelas C lebih keras

 
TheRealLivingDeal News 2 © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum